May 19, 2017

Menutup Luka




Banyak yang bilang, bahwa mereka yang kuat seringkali menimbun banyak kesedihan dalam dirinya. Dulu, Mama pernah bilang, mereka yang terlihat bahagia memiliki kemampuan untuk membangun tamengnya sendiri, mengabaikan rasa perihnya dan memilih cara lain untuk menghadapi kehidupan. Belakangan ini aku seringkali dipuji temanku sebagai orang yang kuat. Meski kedengarannya sungguh keren, dan mungkin usahaku untuk membangun citra berhasil, aku malah bertanya-tanya. Apakah benar aku telah pulih dari lukaku? Apakah aku patut memuji diriku atas usahanya?

Dari dulu, hal yang paling ku takuti dari persepsi orang terhadapku adalah dinilai angkuh dan kompetitif. Sebenarnya ngga ada yang salah dengan menjadi kompetitif, tapi aku paling sedih kalau apa yang aku usahakan dinilai hanya untuk bersaing dengan orang lain. Karena lawanku yang sesungguhnya adalah diriku. Selama menyusun skripsi dan menjalani magang di tiga tempat dalam periode yang sama, aku bergelut dengan rasa withdrawal, denial, depression, dan lain sebagainya yang emang sangat negatif. Setiap aku ngerasa sedih, aku selalu inget Babeh, bahwa beliau akan sedih juga kalau melihat aku yang masih diberikan umur oleh Allah bukannya mengoptimalkan segala momen kehidupan. Setiap aku ngerasa putus asa, sebisa mungkin aku langsung menghentikan diriku buat mikir yang ngga berguna dengan berdoa dan berdzikir. Setiap aku dihadapin sama ujian yang datengnya dari manusia, aku berusaha untuk ngga ambil pusing dan lebih memilih untuk memaafkan atau me-yaudahlah-kan kejadian tersebut. Karena Babehku nggak membesarkanku untuk jadi pribadi pendendam, tapi yang selalu meminta maaf terlebih dahulu. Mungkin hal ini juga yang kemudian bikin aku jadi pribadi yang ngga ambil pusing segala hal. Tapi ternyata pelatihan untuk jadi ikhlas ini belum selesai, menurut Allah, mungkin aku belum pantas untuk naik tingkat. Sehingga yang aku tanyakan tiap aku terbangun pagi hari adalah, ya Allah, mampukah aku untuk lebih ikhlas dan belajar tawakal hari ini?

Namun hal yang paling aku sadari adalah, aku jadi ngga bergantung sama orang. Aku ga bisa mengelak kalau aku jadi lebih extrovert, lebih suka menghabiskan waktu bareng teman atau keluarga daripada sendirian. Tapi bukan dalam konteks pencarian solusi. I feel like I can no longer trust anyone but Allah.  I feel like I do not find comfort by telling my stories to people. For the first time, I feel like I can detach myself from people I used to grow fond of. Lalu, luka mana yang berhasil kau tutup, Anisa?

Luka atas sebuah perasaan yang sementara, atas kehendakNya membolak-balikan hati makhluknya.

Luka yang menyesali segala keputusan yang dibuat, luka untuk menerima bahwa beberapa orang ditakdirkan untuk hadir dan mendewasakan, lalu pergi dengan yang lebih membutuhkannya.

Luka atas segala rasa sedih yang tak berkesudahan, dan keengganan untuk memaafkan diri sendiri atas segala kekurangannya.

Luka dari ketidakpercayaan bahwa hidup hanya sementara, dan orang-orang terkasih akan pulang ke tempat yang lebih indah pada akhirnya.

I refuse to wear my wounds on my sleeves.

I will grow into someone who can show people that He will not burden a soul beyond that it can bear,

Someone who spread kindness and cultivate self-worth, who give loves, hopes, she wishes she has.

No comments: